Aspek Kebudayaan Tidore

Budaya Tidore sangat menarik untuk digali lebih dalam. Beberapa di antaranya adalah Upacara Lufukie, yaitu ritual perjalanan mengelilingi Pulau Tidore dengan perahu Kora-kora. Atau Penyambutan panji Nyili-nyili Bobato Kesultanan.


Suku asli tidore adalah suku BOBO, mereka memiliki persamaan dengan suku papua mulai dari kulit, rambut, sampai bahasa. Persamaan di sini bukan dalam arti yang sama persis, tapi perbedaannya sangat tipis. Penduduk asli kota Tidore juga mengikuti perkembangan zaman tapi tidak melupakkan adat atau tradisi-tradisi dari leluhur mereka, selain Upacara Lufu Kie dan Nyili-nyili, tidore juga mempunyai adat dan tradisi lain yakni Suba Kie Se atau Sembah puji kerajaan dan Suba Tawara, atau Sembah memohon diri.


Selain itu, apabila seorang anak perempuan yang baru menginjak remaja (Menstruasi) maka anak perempuan ini akan di pingit selama 9 hari tidak bisa keluar rumah dan mendapat sinar matahari langsung. Dan kegiatannya selama di pingit adalah memakai bermacam ramuan tradisional seperti bedak-bedak buatan para tetua yang di oleskan kesekujur tubuh, hal ini berguna untuk kecantikan alami perempuan itu.


Kehidupan Ekonomi Tidore

Rempah-rempah sebagai sumber kekayaan Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore berkembang sebagai kerajaan Maritim. Dan hal ini juga didukung oleh keadaan kepulauan Maluku yang memiliki arti penting sebagai penghasil utama komoditi perdagangan rempah-rempah. Kedua kerajaan ini merupakan penghasil rempah-rempah terbanyak di dunia. Oleh karena itu, bila menggunakan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan Ternate dan Tidore seakan-akan seperti pangkal perdagangan yang berakhir di tempat tujuan yang siap membeli. Dengan andalan rempah-rempah tersebut maka banyak para pedagang baik dari dalam maupun luar Nusantara yang datang langsung untuk membeli rempah-rempah tersebut, kemudian diperdagangkan di tempat lain.

Eropa merupakan konsumen rempah-rempah terbanyak, cuaca yang dingin mengharuskan mereka mencari sumber rempah-rempah berada. Selain untuk tujuan mencari kebutuhan, bangsa Eropa juga ingin menguasai perdagangan karena harganya akan jauh lebih murah bila langsung dibeli di tempat asalnya.

Dengan kondisi tersebut, maka perdagangan di Maluku semakin ramai dan hal ini tentunya mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Maluku. Adanya monopoli dagang Portugis maka perdagangan menjadi tidak lancar dan menimbulkan kesengsaraan rakyat di Maluku pada saat itu.